Tuesday, November 4, 2014

Reflective Essay: Sepenggal Kisah di Baturraden Adventure Forest (BAF)





Hari jum’at, hari yang lagi-lagi jadi hari istimewa bagi semua mahasiswa keperawatan UNSOED angkatan 2014. Seusai penat mengerjakan tugas dan kuliah, kami diberi sedikit ‘penyegaran’ berupa kegiatan outbond di Baturraden Adventure Forest, Banyumas pada tanggal 31 Oktober. Kegiatan outbond ini masih berupa satu rangkaian dari kegiatan-kegiatan lainnya di blok Character Building, jadi tentunya saya dan kawan tidak serta merta bebas dari tugas dan penilaian selama dan sesudah outbond berlangsung. Ya salah satu tugas dari kegiatan outbond adalah reflective essay yang sedang anda baca kali ini (hehehe).
Saya dan teman-teman berangkat dari kampus keperawatan sekitar pukul satu siang, tepatnya setelah sholat jum’at dilaksanakan. Jarak yang cukup dekat membuat kami cukup menyewa angkutan umum untuk setiap kelompok yang isinya 10 sampai 11 orang. Setelah sampai di tempat outbond, yakni Baturradden Adventure Forest atau lebih sering disingkat BAF, kami langsung disuguhi pemandangan indah khas alam gunung Slamet yang asri dan sejuk. Menurut Kang Yono, salah satu staff BAF, tempat outbond tersebut termasuk salah satu dari 100 tempat terindah di dunia. Kami semua merasa senang bisa melakukan kegiatan outbond di tempat yang bagus seperti BAF.
Selain bisa bersenang-senang di BAF, saya dan teman-teman pun merasakan hubungan kami semakin dekat dan akrab. Biasanya kami hanya berkumpul dengan kelompok-kelompok kami selama kuliah, tapi ketika outbond, kami benar-benar bisa melebur menjadi satu. Tidak ada lagi perasaan canggung atau tidak suka, semua kegiatan kami jalani dengan penuh sukacita dan senang hati. Tidak ada lagi label mahasiswa yang pintar dan yang bodoh, yang gaul dan yang kuper, semuanya hilang begitu saja saat kami semua berkumpul bersama. Terimakasih untuk Tuhan karena lewat BAF kami mahasiswa keperawatan 2014 menjadi lebih akrab dan lebih dekat untuk mengenal satu sama lain.
Ketika outbond berlangsung, ada beberapa hal yang baik dan juga masih perlu dikoreksi. Hal yang baiknya adalah semua kegiatan berlangsung lancar dan tanpa ada satu ‘insiden’ pun. Semua kegiatan berhasil menunjukkan ‘makna’ sesungguhnya sehingga berkesan dan juga bernilai bagi kami. Akan tetapi, dari segi lain seperti konsumsi dan kamar mandi perlu diperbaiki lagi. Jangan ada lagi antrian kamar mandi bagi para peserta sehingga menghabiskan waktu dan makanan yang rasanya ‘hambar’ alias tidak cocok di lidah. Selain itu segi keamanan atau safety dari permainan seperti flying fox lebih ditingkatkan lagi, karena saat kami melakukan kegiatan flying fox, semua peserta tidak ada satupun yang diberi helm dan body protector seperti pelindung lutut dan siku. Semoga hal-hal ini bisa diperbaiki oleh pengelola BAF kedepannya.
Selama outbond, saya dan teman-teman melakukan banyak aktifitas alam dan games seperti trust fall, the ring challenge, triangle challenge, tracking sun rise,  api unggun, menjaga lilin, dan hingga yang paling menarik adalah flying fox. Kegiatan tersebut bukan hanya sekadar having fun atau melepas penat, tapi juga punya makna. Mulai dari trust fall yang melatih hubungan saling percaya diantara peserta dan juga kekompakkan. Lalu pada the ring challange dan triangle challange, kami diajarkan untuk menjalin kekompakkan, cara berkomunikasi yang baik, kejujuran, dan kepatuhan terhadap aturan. Untuk flying fox, pelajaran pentingnya adalah melatih bagaimana kita mengambil keputusan secara tepat dan juga berani untuk mengambil resiko. Pada kegiatan trcaking sun rise atau jelajah ke tempat di sekitar BAF, disana kami menemukan banyak hal-hal baru dan juga mengenal arti kerja keras karena kami dari pagi buta harus sudah bangun, dan semua itu dilakukan hanya agar kami bisa melihat matahari terbit atau sun rise dari bukit. Lalu ada acara api unggun, dimana kami mahasiswa keperawatan 2014 menjadi satu dan menjalin kekompakkan diantara kami.  Dan yang terakhir, yakni tantangan menjaga sebuah lilin untuk tetap menyala dari lapangan tempat kami berkumpul hingga sungai, melatih kerja sama dan juga kekompakkan kami sebagai peserta.
Kesimpulannya, kegiatan outbond sangatlah berguna untuk melatih softskill para pesertanya. Bukan hanya sekadar melepas penat dan mencari hiburan, tetapi outbond justru lebih dari itu semua. Outbond yang baik melatih sifat-sifat individu yang memiliki komunikasi serta kerja sama yang baik, juga kekompakkan dan keberanian. Softskill tersebut sangatlah berguna untuk kehidupan seseorang, terutama bagi calon perawat seperti saya nantinya. Perawat tidak hanya dipandang dari hard skill mereka dalam merawat pasien, tetapi juga kerja sama dengan petugas kesehatan lainnya seperti dokter, apoteker, dan lain sebagainya. Hal tersebut bisa menjadi kunci dasar untuk kehidupan yang lebih sukses lagi.
Untuk kedepannya, setelah melewati kegiatan outbond ini, saya berharap bisa menjadi seseorang yang lebih bermakna lagi. Lewat outbond , saya berusaha untuk memiliki sikap dan mentalitas yang lebih baik lagi. Bukan individu yang hanya terampil dalam hard skill saja, tetapi juga soft skill-nya. Seseorang baru dinilai berhasil jika seimbang antara kemampuan secara fisik dan kemampuannya secara batiniah, yakni bukan hanya pintar dan sukses secara materi, tetapi juga secara sosial dan spiritual.

KUMPULAN FOTO di BAF 



Mandi di Sungai :D
 
Api Unggun
 
 
 Gunung Slamet di Pagi Hari
 
 
Saat Tracking Sun Rise
 
 
Selfie dulu sama para sapi :D



~The End~

Monday, October 27, 2014

Essay Reflective [Kunjungan ke Monumen Panglima Besar Soedirman]





Jum’at, 24 Oktober 2014...
Hari itu cukup istimewa bagi saya dan teman-teman mahasiswa keperawatan UNSOED angkatan 2014. Di hari yang cukup cerah tersebut, kami bersama-sama mengunjungi salah satu objek wisata sejarah yang ada di Purwokerto, yakni Monumen Panglima Besar Soedirman. Monumen tersebut berada di daerah Karang Lewas dan cukup jauh dari kampus kami. Oleh karena itu, kami sepakat untuk berangkat dari kampus pada pukul 07.30 pagi agar tidak kesiangan saat sampai di monumen.
Saat kami berangkat, perasaan saya masih biasa-biasa saja dan malah cenderung bingung. Saya bingung karena belum pernah mengunjungi monumen Panglima Besar Soedirman. Memang seistimewa apa monumen tersebut, sampai-sampai dosen kami menyuruh kami berkunjung kesana? Saat saya bertanya ke teman-teman pun juga sama, mereka pun belum tahu tentang monumen Panglima Besar Soedirman dan siapa sebenarnya sosok Jenderal Soedirman yang namanya digunakan sebagai nama Universitas kami bernaung. Namun, pada akhirnya kebingungan tersebut hilang saat saya sampai di monumen. Bahkan setelah berkeliling di monumen, saya merasa lebih semangat dan termotivasi.
Sampai di monumen, ternyata kondisinya sama seperti yang saya pikirkan. Monumen Panglima Besar Jenderal Soedirman yang seharusnya bisa menjadi potensi untuk objek wisata sejarah justru terkesan kurang terawat dan kurang menarik. Tidak ada diorama atau alat peraga yang menarik di dalam monumen, yang ada hanya kumpulan foto-foto saat Jenderal Soedirman masih hidup hingga wafat. Taman-taman disekitarnya pun kurang terawat karena menimbulkan suasana gelap, dan biasanya taman seperti itu dialih fungsikan oleh anak muda untuk pacaran. Menurut petugas monumen, pada desember 2014 nanti akan ada pemugaran monumen dan penambahan fasilitas seperti diorama dan LCD proyektor untuk menambah minat pengunjung. Ya, semoga saja rencana pemugaran itu benar-benar terlaksana dan bukan sekadar janji.
Terlepas dari berbagai kekurangan fasilitas di monumen, saya menemukan banyak hal dari sosok seorang Jenderal Soedirman setelah melihat-lihat foto dan mendengar penjelasan dari petugas monumen. Soedirman bukanlah seorang jenderal biasa. Meski ia anak seorang petani dan terpaksa diadopsi pamannya di Purbalingga dari kecil, beliau tetap bisa tegar dan semangat menjalani hidup. Soedirman terkenal sebagai pribadi yang penuh semangat, pantang menyerah, dekat dengan rakyat, dan juga berani. Meski saat berperang ia harus diangkat dengan tandu karena penyakit TBC yang membuat ia kehilangan separuh paru-parunya, Jenderal Soedirman tetap semangat dan pantang menyerah untuk melawan penjajah yang ingin kembali mengusik kemerdekaan di bumi pertiwi. Beliau pun dekat dengan rakyat dan terutama dengan para prajurit bawahannya. Bahkan saat rombongan pasukan geriliya Soedirman kehabisan bekal di medan perang, Soedirman menyuruh isterinya untuk menjual barang-barang berharga di rumahnya untuk membiayai perbekalan di medan perang. Perbuatan yang sangat ‘nekat’ dan berani tersebut yang membuat Soedirman menjadi sosok yang berbeda, berbeda dengan kebanyakan Jenderal zaman sekarang yang hidupnya bergelimang kemewahan tanpa memikirkan nasib rakyat.
Lalu, apa yang bisa disimpulkan? Perjuangan tanpa henti sang Jenderal hingga akhir hayatnya sudah sepatutnya diberi penghargaan setinggi-tingginya dari rakyat yang ia bela. Soedirman telah susah payah melawan penjajah dan juga penyakit yang ia derita hanya untuk kemerdekaan yang sejati bagi bangsanya. Soedirman bisa saja memanfaatkan posisinya sebagai Jenderal untuk keuntungan pribadi, namun beliau bukanlah sosok yang tamak dan rakus. Ia hidup untuk berjuang dan mati untuk mempertahankan kemerdekaan. 
Oleh karena itu, sebagai generasi muda penerus bangsa, sudah seharusnya kita mencontoh sikap-sikap luhur dari Jenderal Soedirman yang berani, pantang menyerah, setia pada negara, dan penuh semangat. Bukan lagi saatnya kita menjadi pemuda-pemudi yang bermental cengeng, manja, dan selalu ingin dibuai kenikmatan fasilitas yang dimiliki, tapi jadilah pemuda-pemudi yang kuat dan tangguh seperti Jenderal Soedirman. Kita sebagai generasi muda harus berjuang dan tetap semangat dengan cara terus belajar serta aktif dalam kegiatan yang membangun negara, karena suatu bangsa tidak akan pernah bangkit dari keterpurukannya jika belum ada pemuda-pemudi hebat yang mendorongnya.

“Robek-robeklah badanku,
Potong-potonglah jasadku ini,
Tetapi jiwaku yang dilindungi sang Merah Putih akan tetap hidup,
Tetap menuntut bela siapapun lawan yang bakal dihadapi,”
-Jenderal Soedirman-


Foto-foto di Monumen PANGSAR SOEDIRMAN:


 Tampak depan monumen PANGSAR SOEDIRMAN


Lukisan sang Jenderal Soedirman saat ditandu dalam medan perang geriliya


Jenderal Soedirman sedang memberi hormat


Tandu Sang Jenderal



Foto Pribadi :D

~THE END~