Jum’at, 24 Oktober 2014...
Hari itu cukup istimewa
bagi saya dan teman-teman mahasiswa keperawatan UNSOED angkatan 2014. Di hari
yang cukup cerah tersebut, kami bersama-sama mengunjungi salah satu objek
wisata sejarah yang ada di Purwokerto, yakni Monumen Panglima Besar Soedirman. Monumen
tersebut berada di daerah Karang Lewas dan cukup jauh dari kampus kami. Oleh
karena itu, kami sepakat untuk berangkat dari kampus pada pukul 07.30 pagi agar
tidak kesiangan saat sampai di monumen.
Saat kami berangkat, perasaan
saya masih biasa-biasa saja dan malah cenderung bingung. Saya bingung karena
belum pernah mengunjungi monumen Panglima Besar Soedirman. Memang seistimewa
apa monumen tersebut, sampai-sampai dosen kami menyuruh kami berkunjung kesana?
Saat saya bertanya ke teman-teman pun juga sama, mereka pun belum tahu tentang
monumen Panglima Besar Soedirman dan siapa sebenarnya sosok Jenderal Soedirman
yang namanya digunakan sebagai nama Universitas kami bernaung. Namun, pada
akhirnya kebingungan tersebut hilang saat saya sampai di monumen. Bahkan
setelah berkeliling di monumen, saya merasa lebih semangat dan termotivasi.
Sampai di monumen,
ternyata kondisinya sama seperti yang saya pikirkan. Monumen Panglima Besar
Jenderal Soedirman yang seharusnya bisa menjadi potensi untuk objek wisata
sejarah justru terkesan kurang terawat dan kurang menarik. Tidak ada diorama
atau alat peraga yang menarik di dalam monumen, yang ada hanya kumpulan
foto-foto saat Jenderal Soedirman masih hidup hingga wafat. Taman-taman
disekitarnya pun kurang terawat karena menimbulkan suasana gelap, dan biasanya
taman seperti itu dialih fungsikan oleh anak muda untuk pacaran. Menurut petugas monumen, pada desember 2014 nanti akan ada
pemugaran monumen dan penambahan fasilitas seperti diorama dan LCD proyektor
untuk menambah minat pengunjung. Ya, semoga saja rencana pemugaran itu
benar-benar terlaksana dan bukan sekadar janji.
Terlepas dari berbagai
kekurangan fasilitas di monumen, saya menemukan banyak hal dari sosok seorang
Jenderal Soedirman setelah melihat-lihat foto dan mendengar penjelasan dari
petugas monumen. Soedirman bukanlah seorang jenderal biasa. Meski ia anak
seorang petani dan terpaksa diadopsi pamannya di Purbalingga dari kecil, beliau
tetap bisa tegar dan semangat menjalani hidup. Soedirman terkenal sebagai
pribadi yang penuh semangat, pantang menyerah, dekat dengan rakyat, dan juga
berani. Meski saat berperang ia harus diangkat dengan tandu karena penyakit TBC
yang membuat ia kehilangan separuh paru-parunya, Jenderal Soedirman tetap
semangat dan pantang menyerah untuk melawan penjajah yang ingin kembali
mengusik kemerdekaan di bumi pertiwi. Beliau pun dekat dengan rakyat dan
terutama dengan para prajurit bawahannya. Bahkan saat rombongan pasukan
geriliya Soedirman kehabisan bekal di medan perang, Soedirman menyuruh
isterinya untuk menjual barang-barang berharga di rumahnya untuk membiayai
perbekalan di medan perang. Perbuatan yang sangat ‘nekat’ dan berani tersebut
yang membuat Soedirman menjadi sosok yang berbeda, berbeda dengan kebanyakan
Jenderal zaman sekarang yang hidupnya bergelimang kemewahan tanpa memikirkan
nasib rakyat.
Lalu, apa yang bisa
disimpulkan? Perjuangan tanpa henti sang Jenderal hingga akhir hayatnya sudah
sepatutnya diberi penghargaan setinggi-tingginya dari rakyat yang ia bela.
Soedirman telah susah payah melawan penjajah dan juga penyakit yang ia derita
hanya untuk kemerdekaan yang sejati bagi bangsanya. Soedirman bisa saja
memanfaatkan posisinya sebagai Jenderal untuk keuntungan pribadi, namun beliau
bukanlah sosok yang tamak dan rakus. Ia hidup untuk berjuang dan mati untuk
mempertahankan kemerdekaan.
Oleh karena itu,
sebagai generasi muda penerus bangsa, sudah seharusnya kita mencontoh
sikap-sikap luhur dari Jenderal Soedirman yang berani, pantang menyerah, setia
pada negara, dan penuh semangat. Bukan lagi saatnya kita menjadi pemuda-pemudi
yang bermental cengeng, manja, dan
selalu ingin dibuai kenikmatan fasilitas yang dimiliki, tapi jadilah
pemuda-pemudi yang kuat dan tangguh seperti Jenderal Soedirman. Kita sebagai
generasi muda harus berjuang dan tetap semangat dengan cara terus belajar serta
aktif dalam kegiatan yang membangun negara, karena suatu bangsa tidak akan
pernah bangkit dari keterpurukannya jika belum ada pemuda-pemudi hebat yang
mendorongnya.
“Robek-robeklah
badanku,
Potong-potonglah
jasadku ini,
Tetapi
jiwaku yang dilindungi sang Merah Putih akan tetap hidup,
Tetap
menuntut bela siapapun lawan yang bakal dihadapi,”
-Jenderal
Soedirman-
Foto-foto di Monumen PANGSAR SOEDIRMAN:
Tampak depan monumen PANGSAR SOEDIRMAN
Lukisan sang Jenderal Soedirman saat ditandu dalam medan perang geriliya
Jenderal Soedirman sedang memberi hormat
Tandu Sang Jenderal
Foto Pribadi :D
~THE END~






0 comments:
Post a Comment