Pada hari jumat 26 september 2014,
saya dan teman-teman angkatan 2014 di Jurusan Keperawatan UNSOED mengikuti
kegiatan Photovoice Group Discussion.
Sebelum mengikuti kegiatan, saya dan teman-teman diharuskan membuat sebuah
pajangan foto beserta narasi tentang usaha orangtua dalam mendukung pendidikan
kami sebagai mahasiswa dan orang sukses disekitar kami. Setelah membuat karya
tersebut, kami dibagi dalam beberapa kelompok yang berisikan 5-6 orang. Dalam
kelompok tersebut, kami harus saling mendiskusikan karya photovoice kami.
Awalnya, perasaan saya sudah mulai
campur aduk ketika diskusi baru saja dimulai. Ketika teman-teman saya bercerita
tentang orangtua dan orang sukses di sekitar mereka, saya merasa terharu dan
terbawa oleh cerita mereka, bahkan saya sempat menangis ketika mendengar cerita
dari teman saya yang bernama Fatwa dan Riris. Ketika mendapat giliran untuk
menceritakan karya photovoice milik
saya sendiri, saya merasa lebih sedih lagi. Saya jadi teringat akan perjuangan
orangtua saya sebelum saya kuliah di Keperawatan. Saya juga dapat merasakan betapa
besar perjuangan orangtua teman-teman saya agar bisa kuliah di keperawatan
UNSOED dan bagaimana orang-orang sukses dalam karya photovoice kami dapat menumbuhkan motivasi pada kami untuk tetap
semangat belajar.
Ketika kami saling bercerita, ada
beberapa hal yang saya dapatkan saat bercerita tentang photovoice karya saya, terutama ketika
bercerita tentang orangtua. Ternyata banyak hal
yang harus dievaluasi dari dalam diri saya. Biasanya saya suka merasa kesal
kepada orangtua karena sifat mereka yang terlalu over protective. Tetapi, ketika kembali menceritakan perjuangan
orangtua untuk bisa menyekolahkan saya, saya jadi sadar dan menyesal karena
pernah marah terhadap mereka.
Ketika
bercerita tentang orangtua lewat photovoice,
saya mendapatkan banyak pelajaran berharga. Saya jadi lebih menghargai
perjuangan orangtua atas apa yang telah mereka lakukan untuk saya. Orangtua
saya begitu rela menjual rumah yang merupakan satu-satunya harta berharga milik
keluarga hanya untuk biaya kuliah saya. Mereka rela untuk ikut pindah ke
Purwokerto untuk menjaga dan melindungi saya. Mereka rela berjualan puding dan
makanan-makanan kecil lainnya untuk membiayai
kehidupan sehari-hari kami, padahal saya tahu mereka sudah kelelahan
karena usia yang sudah tidak muda lagi. Saya sadar, ternyata orangtua saya
amatlah hebat dan saya harus bangga dengan hal itu.
Begitu
juga dengan orang sukses yang saya ceritakan lewat photovoice. Beliau adalah salah satu orang yang memotivasi saya
untuk masuk ke bidang ilmu kesehatan. Orang sukses tersebut adalah Hj. Faridah
Binti Arsyad atau lebih sering saya sapa dengan panggilan Uwak Idah. Beliau
adalah tante saya dan ia dulunya adalah seorag bidan yang sukses. Sebelum
menjadi bidan, Uwak Idah adalah seorang perawat di Rumah Sakit Carrolus,
Jakarta. Meskipun beliau kini sudah tiada, tapi jasa-jasa beliau di masyarakat
takkan pernah terlupakan. Ia mewariskan sebagian rumahnya untuk diwakafkan dan
dijadikan posyandu bagi lingkungan masyarakat sekitar. Beliau juga mewariskan
buku-buku kesehatan dan laptop milknya untuk saya sebelum beliau meninggal.
Uwak Idah begitu menginspirasi saya dan saya bangga bisa memiliki tante seperti
beliau, karena Uwak Idah bukan hanya sekadar bidan biasa, tapi bidan yang
begitu peduli pada lingkungan sekitar dan kemajuan kesehatan di masyarakat.
Ada dua hal
yang bisa saya simpulkan dari kegiatan photovoice.
Pertama, hargailah setiap perjuangan yang telah orangtua lakukan. Semua orang
sukes di dunia ini tidak akan berhasil tanpa do’a dan perjuangan orangtua
dibelakang mereka. Kedua, setiap orang harus punya sosok inspiratif untuk
mendorong motivasi mereka untuk lebih maju. Sosok inspiratif itu bisa siapa
saja asalkan dapat menumbuhkan motivasi dalam diri untuk terus maju.
Untuk
kedepannya, setelah kegiatan photovoice
ini, saya harus bersikap lebih baik kepada orangtua saya, menghargai, dan tidak
boleh mengecewakan mereka. Saya harus buktikan kepada mereka bahwa perjuangan
mereka selama ini untuk diri saya tidak akan berakhir sia-sia. Saya juga akan
buktikan kepada Uwak Idah bahwa saya akan menjadi tenaga kesehatan yang hebat
dan peduli pada masyarakat seperti saat beliau masih hidup.
Foto Saat Photovoice Group Discussion

.jpg)