Monday, October 27, 2014

Essay Reflective [Kunjungan ke Monumen Panglima Besar Soedirman]





Jum’at, 24 Oktober 2014...
Hari itu cukup istimewa bagi saya dan teman-teman mahasiswa keperawatan UNSOED angkatan 2014. Di hari yang cukup cerah tersebut, kami bersama-sama mengunjungi salah satu objek wisata sejarah yang ada di Purwokerto, yakni Monumen Panglima Besar Soedirman. Monumen tersebut berada di daerah Karang Lewas dan cukup jauh dari kampus kami. Oleh karena itu, kami sepakat untuk berangkat dari kampus pada pukul 07.30 pagi agar tidak kesiangan saat sampai di monumen.
Saat kami berangkat, perasaan saya masih biasa-biasa saja dan malah cenderung bingung. Saya bingung karena belum pernah mengunjungi monumen Panglima Besar Soedirman. Memang seistimewa apa monumen tersebut, sampai-sampai dosen kami menyuruh kami berkunjung kesana? Saat saya bertanya ke teman-teman pun juga sama, mereka pun belum tahu tentang monumen Panglima Besar Soedirman dan siapa sebenarnya sosok Jenderal Soedirman yang namanya digunakan sebagai nama Universitas kami bernaung. Namun, pada akhirnya kebingungan tersebut hilang saat saya sampai di monumen. Bahkan setelah berkeliling di monumen, saya merasa lebih semangat dan termotivasi.
Sampai di monumen, ternyata kondisinya sama seperti yang saya pikirkan. Monumen Panglima Besar Jenderal Soedirman yang seharusnya bisa menjadi potensi untuk objek wisata sejarah justru terkesan kurang terawat dan kurang menarik. Tidak ada diorama atau alat peraga yang menarik di dalam monumen, yang ada hanya kumpulan foto-foto saat Jenderal Soedirman masih hidup hingga wafat. Taman-taman disekitarnya pun kurang terawat karena menimbulkan suasana gelap, dan biasanya taman seperti itu dialih fungsikan oleh anak muda untuk pacaran. Menurut petugas monumen, pada desember 2014 nanti akan ada pemugaran monumen dan penambahan fasilitas seperti diorama dan LCD proyektor untuk menambah minat pengunjung. Ya, semoga saja rencana pemugaran itu benar-benar terlaksana dan bukan sekadar janji.
Terlepas dari berbagai kekurangan fasilitas di monumen, saya menemukan banyak hal dari sosok seorang Jenderal Soedirman setelah melihat-lihat foto dan mendengar penjelasan dari petugas monumen. Soedirman bukanlah seorang jenderal biasa. Meski ia anak seorang petani dan terpaksa diadopsi pamannya di Purbalingga dari kecil, beliau tetap bisa tegar dan semangat menjalani hidup. Soedirman terkenal sebagai pribadi yang penuh semangat, pantang menyerah, dekat dengan rakyat, dan juga berani. Meski saat berperang ia harus diangkat dengan tandu karena penyakit TBC yang membuat ia kehilangan separuh paru-parunya, Jenderal Soedirman tetap semangat dan pantang menyerah untuk melawan penjajah yang ingin kembali mengusik kemerdekaan di bumi pertiwi. Beliau pun dekat dengan rakyat dan terutama dengan para prajurit bawahannya. Bahkan saat rombongan pasukan geriliya Soedirman kehabisan bekal di medan perang, Soedirman menyuruh isterinya untuk menjual barang-barang berharga di rumahnya untuk membiayai perbekalan di medan perang. Perbuatan yang sangat ‘nekat’ dan berani tersebut yang membuat Soedirman menjadi sosok yang berbeda, berbeda dengan kebanyakan Jenderal zaman sekarang yang hidupnya bergelimang kemewahan tanpa memikirkan nasib rakyat.
Lalu, apa yang bisa disimpulkan? Perjuangan tanpa henti sang Jenderal hingga akhir hayatnya sudah sepatutnya diberi penghargaan setinggi-tingginya dari rakyat yang ia bela. Soedirman telah susah payah melawan penjajah dan juga penyakit yang ia derita hanya untuk kemerdekaan yang sejati bagi bangsanya. Soedirman bisa saja memanfaatkan posisinya sebagai Jenderal untuk keuntungan pribadi, namun beliau bukanlah sosok yang tamak dan rakus. Ia hidup untuk berjuang dan mati untuk mempertahankan kemerdekaan. 
Oleh karena itu, sebagai generasi muda penerus bangsa, sudah seharusnya kita mencontoh sikap-sikap luhur dari Jenderal Soedirman yang berani, pantang menyerah, setia pada negara, dan penuh semangat. Bukan lagi saatnya kita menjadi pemuda-pemudi yang bermental cengeng, manja, dan selalu ingin dibuai kenikmatan fasilitas yang dimiliki, tapi jadilah pemuda-pemudi yang kuat dan tangguh seperti Jenderal Soedirman. Kita sebagai generasi muda harus berjuang dan tetap semangat dengan cara terus belajar serta aktif dalam kegiatan yang membangun negara, karena suatu bangsa tidak akan pernah bangkit dari keterpurukannya jika belum ada pemuda-pemudi hebat yang mendorongnya.

“Robek-robeklah badanku,
Potong-potonglah jasadku ini,
Tetapi jiwaku yang dilindungi sang Merah Putih akan tetap hidup,
Tetap menuntut bela siapapun lawan yang bakal dihadapi,”
-Jenderal Soedirman-


Foto-foto di Monumen PANGSAR SOEDIRMAN:


 Tampak depan monumen PANGSAR SOEDIRMAN


Lukisan sang Jenderal Soedirman saat ditandu dalam medan perang geriliya


Jenderal Soedirman sedang memberi hormat


Tandu Sang Jenderal



Foto Pribadi :D

~THE END~

Thursday, October 9, 2014

Perawat? Menurut Lo? [Diary Perawat 1]

POSTINGAN RESMI NIH! *teriak pake toak*


Mungkin buat yang udah baca isi blog ini bakalan bingung dan pasti nyangka blog ini buat tugas. YES, YOU'RE RIGHT BEBEH... Ini blog awalnya cuma buat memenuhi tugas kuliah gue di Keperawatan UNSOED. Tapi lama kelamaan, entah ada bisikan gaib dari sana-sini, gue tertarik untuk nge-blog lagi. Well, sebenernya gue udah bikin blog sih pas jaman-jaman smp ama sma, tapi ya isinya gak jauh-jauh ama curhatan anak labil *wkwkwk*

Dan daripada ngomong gak jelas di blog gue yang tercinta ini *asek*, mending gue cerita dulu bagaimana gue bisa terjun ke dunia keperawatan. Well, sebenarnya sih cita-cita gue bukan jadi perawat, tapi jadi penulis dan wartawan. Tapi, karena arjuna belum kasih panah asmaranya buat gue (?), gue jadi berubah halauan ke dunia medis. Sebenarnya awalnya gue gak niat-niat banget jadi perawat Gue pengen jadi perawat cuma gara-gara gebetan gue pengen ngambil jurusan kedokteran di UNSOED (cieee... Curhat cieee). Tapi ujung-ujungnya sih dia malah masuk Akuntansi UI dan gue udah terperosok jauh sendirian di Keperawatan UNSOED -_- Well, that's love, kita bisa lakuin hal-hal gila yang gak pernah kita pikirin sebelumnya gara-gara cinta *Makan tuh cinta*...

Gue masuk Keperawatan Universitas Jendral Soedirman Purwokerto lewat jalur SBMPTN. Awalnya sih gue seneng banget lolos di keperawatan, gue udah ngebayangin gue bakal ketemu si 'bebeb' yang bakal jadi dokter dan gue perawatnya *uhuyyy*. Tapi, ternyata gue diboongin sodara-sodara, dia diem-diem ikut simak UI dan... TENG TENG... Dia diterima di Akuntansi UI! Gue yang udah seneng-seneng dapet keperawatan Unsoed jadi cengok bin bloon pas tahu dia masuk UI. GUE MERASA DIKHIANATI BEB!!! *elap ingus pake lap pel* *halah lebay!!*. Yah, nasi udah digoreng, mau digimanain lagi? Akhirnya gue terpaksa menjalani hidup gue sebagai mahasiswa Keperawatan.

Awalnya banyak yang gak nyangka kalo gue masuk Keperawatan UNSOED. Gimana gak kaget, lah gue itu tipikal orang yang jauh banget dari image perawat yang sering ada di film-film dan FTV. Kata mereka yang hobi nonton TV, perawat itu orang yang ramah, pintar, cantik, sekseh (?), terus putih lagi. Kalo gue? Kebalikan dari itu semua *telen mastin* -_- Gue tuh terkenal tomboy, chubby (?), histeris kalo ketemu sama hal berbau EXO ._., terus somplak lagi. Banyak yang bilang kalo gue lebih baik jadi pispot di rumah sakit daripada jadi perawatnya *buset, nelen air kencing dong gue? -___-*. Tapi, karena alesan UDAH TERLANJUR, gue tetep nekat masuk keperawatan. Mau apapun yang terjadi, walaupun Mastin tiba-tiba jadi ekstrak kulit jamblang *apa hubungannya???*, gue tetep mau jadi calon perawat akhirnye :P

Ok, sekian intro gak jelas dari gue (?). Sekarang gue mau kepo ama lu yang baca postingan ini. Menurut lo, perawat A.K.A suster itu kayak gimana sih??

A. Perawat itu pembantunya dokter
B. Perawat itu kerjanya simple (?)
C. Perawat itu pekerjaan yang mulia *cieee*
D. Perawat itu kayak di film-film yang terkenal sekseh dan suka ngesot-ngesot gak jelas


Suster Ngesot *ngapain ngesot keles, padahal masih punya kaki...* -__-

Dan, survey membuktikan....

Pasti kebanyakan pada jawab yang A atau B -_- well, gue udah memprediksikan bahwa dari separo manusia yang ada di bumi pasti nyangka perawat itu hanya pembantunya dokter dan kerjaannya simple. APA? SIMPLE? NIH BARBEL MELAYANG -____- Dan buat yang jawab C, gue do'ain semoga berjodoh ama bebepnya *uhuuyy*, dan yang buat jawab D gue sumpahin ketemu suster ngesot beneran -_-

Dari pelajaran yang gue terima selama menjadi mahasiswa baru di keperawatan, tugas seorang perawat itu gak mudah. Kalo dokter itu pekerjannya di bidang diagnosa penyakit, tapi kalo perawat adalah orang pertama yang bakal selalu ngejaga pasien dan ngasih tindakan pertama kali kalo pasien kenapa-kenapa. Kebayang gak sih perawat itu kerjanya harus ngadepin 1001 jenis pasien yang berbeda-beda dan harus ekstra sabar.

Perawat juga harus pinter lho, kalo gak pinter nanti asal-asalan lagi pas ngerawat pasien. As Your Information, untuk keperawatan S1 Unsoed, belajarnya tuh ilmu-ilmu penyakit, obat-obatan, dan teknik keperawatan A.K.A asuhan keperawatan. Tapi itu sih baru ada di semester 2, kalo di semester 1 kayak gini tuh belajarnya masih kayak mahasiswa baru lainnya kayak karya tulis ilmiah, bahasa indonesia, PKN, agama, dan pelajaran lain yang berhubungan ama etika dan karakter.

Well, setelah full bacot kayak gini, gue sih ngarepnya yang pada baca postingan ini segera insyaf (?) dan merubah mindset mereka tentang perawat. Perawata itu partner dokter, bukan pembantunya. Perawat itu bukan dilihat dari parasnya, tapi dari keahlian dan empati mereka dalam menghadapi pasien. And... Perawat itu gak ngesot karena mereka masih punya kaki buat berdiri -_-

Ok, sekian dulu ya beb, besok-besok gue mau nge-post tentang pengalaman ospek gue di Keperawatan UNSOED. Oh ya, kalo lo nemu postingan berbahasa resmi dan baku, itu artinya gue lagi ngerjain tugas dari dosen. :D

Be Happy Everyone ;D

Tuesday, September 30, 2014

Photovoice Group Discussion Report

Pada hari jumat 26 september 2014, saya dan teman-teman angkatan 2014 di Jurusan Keperawatan UNSOED mengikuti kegiatan Photovoice Group Discussion. Sebelum mengikuti kegiatan, saya dan teman-teman diharuskan membuat sebuah pajangan foto beserta narasi tentang usaha orangtua dalam mendukung pendidikan kami sebagai mahasiswa dan orang sukses disekitar kami. Setelah membuat karya tersebut, kami dibagi dalam beberapa kelompok yang berisikan 5-6 orang. Dalam kelompok tersebut, kami harus saling mendiskusikan karya photovoice kami.
Awalnya, perasaan saya sudah mulai campur aduk ketika diskusi baru saja dimulai. Ketika teman-teman saya bercerita tentang orangtua dan orang sukses di sekitar mereka, saya merasa terharu dan terbawa oleh cerita mereka, bahkan saya sempat menangis ketika mendengar cerita dari teman saya yang bernama Fatwa dan Riris. Ketika mendapat giliran untuk menceritakan karya photovoice milik saya sendiri, saya merasa lebih sedih lagi. Saya jadi teringat akan perjuangan orangtua saya sebelum saya kuliah di Keperawatan. Saya juga dapat merasakan betapa besar perjuangan orangtua teman-teman saya agar bisa kuliah di keperawatan UNSOED dan bagaimana orang-orang sukses dalam karya photovoice kami dapat menumbuhkan motivasi pada kami untuk tetap semangat belajar.
Ketika kami saling bercerita, ada beberapa hal yang saya dapatkan saat bercerita tentang photovoice karya saya, terutama ketika bercerita tentang orangtua. Ternyata banyak hal yang harus dievaluasi dari dalam diri saya. Biasanya saya suka merasa kesal kepada orangtua karena sifat mereka yang terlalu over protective. Tetapi, ketika kembali menceritakan perjuangan orangtua untuk bisa menyekolahkan saya, saya jadi sadar dan menyesal karena pernah marah terhadap mereka.
Ketika bercerita tentang orangtua lewat photovoice, saya mendapatkan banyak pelajaran berharga. Saya jadi lebih menghargai perjuangan orangtua atas apa yang telah mereka lakukan untuk saya. Orangtua saya begitu rela menjual rumah yang merupakan satu-satunya harta berharga milik keluarga hanya untuk biaya kuliah saya. Mereka rela untuk ikut pindah ke Purwokerto untuk menjaga dan melindungi saya. Mereka rela berjualan puding dan makanan-makanan kecil lainnya untuk membiayai  kehidupan sehari-hari kami, padahal saya tahu mereka sudah kelelahan karena usia yang sudah tidak muda lagi. Saya sadar, ternyata orangtua saya amatlah hebat dan saya harus bangga dengan hal itu.
Begitu juga dengan orang sukses yang saya ceritakan lewat photovoice. Beliau adalah salah satu orang yang memotivasi saya untuk masuk ke bidang ilmu kesehatan. Orang sukses tersebut adalah Hj. Faridah Binti Arsyad atau lebih sering saya sapa dengan panggilan Uwak Idah. Beliau adalah tante saya dan ia dulunya adalah seorag bidan yang sukses. Sebelum menjadi bidan, Uwak Idah adalah seorang perawat di Rumah Sakit Carrolus, Jakarta. Meskipun beliau kini sudah tiada, tapi jasa-jasa beliau di masyarakat takkan pernah terlupakan. Ia mewariskan sebagian rumahnya untuk diwakafkan dan dijadikan posyandu bagi lingkungan masyarakat sekitar. Beliau juga mewariskan buku-buku kesehatan dan laptop milknya untuk saya sebelum beliau meninggal. Uwak Idah begitu menginspirasi saya dan saya bangga bisa memiliki tante seperti beliau, karena Uwak Idah bukan hanya sekadar bidan biasa, tapi bidan yang begitu peduli pada lingkungan sekitar dan kemajuan kesehatan di masyarakat.
Ada dua hal yang bisa saya simpulkan dari kegiatan photovoice. Pertama, hargailah setiap perjuangan yang telah orangtua lakukan. Semua orang sukes di dunia ini tidak akan berhasil tanpa do’a dan perjuangan orangtua dibelakang mereka. Kedua, setiap orang harus punya sosok inspiratif untuk mendorong motivasi mereka untuk lebih maju. Sosok inspiratif itu bisa siapa saja asalkan dapat menumbuhkan motivasi dalam diri untuk terus maju.

Untuk kedepannya, setelah kegiatan photovoice ini, saya harus bersikap lebih baik kepada orangtua saya, menghargai, dan tidak boleh mengecewakan mereka. Saya harus buktikan kepada mereka bahwa perjuangan mereka selama ini untuk diri saya tidak akan berakhir sia-sia. Saya juga akan buktikan kepada Uwak Idah bahwa saya akan menjadi tenaga kesehatan yang hebat dan peduli pada masyarakat seperti saat beliau masih hidup. 

Foto Saat Photovoice Group Discussion


Monday, September 29, 2014

Reflective Learning For Nurse



Reflective Learning sangatlah penting bagi seorang tenaga kesehatan, terutama perawat. Dengan belajar secara reflektif, maka perawat dapat belajar dari setiap peristiwa yang ia alami, terutama dari kesalahan-kesalahan yang ia perbuat sebelumnya.